728x90 AdSpace

T e r b a r u
Sabtu, 20 Agustus 2011

Prosesi Pernikahan Bugis (Pinrang)



Seperti suku – suku yang lainnya yang ada di nusantara ( Indonesia ), masyarakat bugis juga memiliki tradisi dalam proses pernikahan. Mulai dari lamaran, pra akad nikah, akad nikah, sampai dengan pasca akad nikah. Semuanya terangkai dalam suatu proses yang cukup unik.

Beberapa tahapan prosesi pernikahan suku bugis Pinrang anatara lain sebagai berikut :
·         Madduta ( Pinangan / Lamaran )
·         Mappettu ada (putusan lamaran)
·         Mappaisseng ( Undangan ).
·         Mappacci ( Selamatan di Malam Akad Nikah )
·         Akad Nikah
·         Marola ( Prosesi Mempelai wanita ke rumah mempelai pria )

Madduppa botting
Diartikan menjemput kedatangan pengantin laki-laki. Sebelum penganting laki-laki berangkat ke rumah perempuan.

Rombongan Erang-erang
Iring-iringan pengantin dalam baju bodo  yang bersiap menuju kediaman mempelai wanita.

Passompoa
Passompa adalah salah satu bagian penting dalam prosesi perkawinan. Passompa berarti dipanggulnya salah seorang anggota keluarga mempelai wanita yang termuda.

Akad Nikah
Orang bersiap melakukan akad nikah adalah bapak atau wali calon mempelai perempuan atau imam kampung atau salah seorang yang ditunjuk oleh Departemen Agama. Dua orang saksi dari kedua belah pihak.

Mappasiluka
Setelah akad nikah selesai maka dilanjutkan dengan acara mappasiluka atau mappasikarawa. Acara ini merupakan kegiatan mempertemukan mempelai laki-laki dengan pasangannya.

Maréllau Dampeng
Setelah prosesi mappasiluka maka dilanjutkan dengan acara memohon maaf kepada kedua orang tua pengantin perempuan dan seluruh keluarga dekat yang sempat hadir pada akad nikah tersebut.

Pandangan Masyarakat Bugis Terhadap Perkawinan.
Perkawinan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena perkawinan bukan hanya merupakan peristiwa yang harus ditempuh atau dijalani oleh dua individu yang berlainan jenis kelamin, tetapi lebih jauh adalah perkawinan sesungguhnya proses yang melibatkan beban dan tanggung jawab dari banyak orang, baik itu tanggung jawab keluarga, kaum kerabat (sompung lolo) bahkan kesaksian dari seluruh masyarakat yang ada di lingkungannya. (Pelras.C,2006)


Sumber : google.com
  • Bagaimana Menurut Anda?