728x90 AdSpace

T e r b a r u
Minggu, 08 Maret 2015

Gambar Pemandangan Legendaris, Ternyata Benar Adanya


Masih ingat gambar-gambar pemandangan yang paling fenomenal di masa SD ketika diberi tugas menggambar? Hmm... kurang lebihnya seperti gambar diatas bukan? Yah, saya bisa memastikan, generasi seumuran saya dan mungkin hingga dibawah saya sangat kenal dengan gambar tersebut.



Sebuah gambar sederhana dan hampir seragam yang dianggap sebagai imajinasi masa kanak-kanak, Dua gunung yang mengapit sebuah matahari (bahkan beberapa diantaranya memberinya mata dan senyuman) dengan hamparan sawah yang dibelah dengan jalanan, sebuah rumah serta pepohonan dan tak terlewatkan objek menyerupai huruf M yang mewakili burung yang terbang.



Meski, kita hanya beranggapan itu adalah sebuah imajinasi sederhana masa kecil, ternyata gambaran itu benar dan nyata adanya di Indonesia. Adalah Gunung Sindara, biasa disebut Sindoro, atau juga Sundoro (altitudo 3.150 meter di atas permukaan laut) dan Gunung Sumbing (altitudo 3.371 meter dari permukaan laut) merupakan sebuah gunung volkano aktif yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat.

Itulah gambaran sederhana, yang turun temurun diwariskan untuk menyerhanakan gambaran besar kita terhadap kekeyaan alam bangsa ini. Entah sekarang masih relevan atau tidak dan apakah masih ada anak-anak sekarang yang menggambar bentuk serupa.

Namun, beberapa waktu yang lalu, saya masih sempat melihat gambar keponakan saya yang masih TK, menggambar pemandangan yang serupa namun tidak sedetail gambaran diatas. Mungkin karena perkembangan zaman ataukah karena memang sudah jarang lagi dilihatnya kondisi seperti itu. Bisa jadi pula, imajinasi anak-anak sekarang sudah sesak dengan tontonan modern, dimana teknologi lebih banyak mendominasi.

Sempat pula saya menemukan, sebuah tulisan di blog yang menganggap gambaran diatas sebagai bentuk propaganda pada zaman itu tentang sebuah kondisi negara agraris, penghasil beras ekspor dengan keiandahan alam yang luar biasa serta untuk menanamkan benih cinta tanah air sedari kecil. Tapi disisi lain mengkerdilkan kreatifitas, karena pada zaman itu, gambar yang berbeda akan mendapatkan nilai yang kurang.

Saya sendiri menganggap wajar gambar pemandangan tersebut sangat fenomenal di masa itu, bahkan mungkin hingga sekarang dan bukan berarti mengkerdilkan kreatifitas. Tapi, itu lebih pada kondisi yang dirasakan oleh anak pada lingkungan sekelilingnya. Mengenai penilaian, tentu sangat tergantung terhadap pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki sang pendidik.

Saya juga masih ingat, waktu SD, saya paling suka ketika masuk sesi menggambar pemandangan dan saya pernah membuat sebuah gambar tetap dengan latar belakang seperti diatas namun yang dominan adalah gambaran perkotaan dengan tambahan mobil dan helikopter yang alakadarnya, meski saya sekolah di desa yang kebetulan juga punya gunung dan sawah. Guru saya pun mengapresiasi, karena ketika saya ditanya saya menjelaskan kondisi yang saya pernah lihat di tv (hanya ada TVRI pada saat itu) dan dengarkan dari cerita keluarga yang berada di kota. Mungkin demikian pula sebaliknya dengan kondisi anak-anak yang tinggal di kota, imajinasi atau khayalannya berisi kondisi pendesaan yang sejuk, rindang dan damai karena mungkin sumpek dengan suasana perkotaan.

Bagaimana dengan anda?

asalada09
diolah dari berbagai sumber 
  • Bagaimana Menurut Anda?