728x90 AdSpace

T e r b a r u
Selasa, 10 Maret 2015

Musik Kegemaran 7 Presiden RI

Pada tanggal 20 Oktober 2014 yang lalu, rakyat Indonesia secara resmi telah memiliki tujuh presiden. Adalah Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan Presiden ke-7 yang dimiliki republik ini.

Tentu dari ke-7 presiden yang dimiliki Indonesia, memiliki karakter, hobi dan kegemaran berbeda-beda, termasuk soal selera musik.

Selera musik masing-masing presiden tentu berbeda dan Presiden Joko Widodo, ternyata memiliki selera musik yang terlihat lebih menonjol dan berbeda dengan musik yang lebih garang, yakni musik rock.

Ini merupakan artikel yang sudah cukup lama, namun karena gaung #HariMusikNasional yang resmi sejak tahun 2003 silam sebagai bentuk penghargaan kepada Wage Rudolf Soepratman, pengarang lagu kebangsaan Indonesia Raya dan bertepatan dengan hari ini, maka saya coba menelusuri dan menemukan refrensi tentang musik kegemaran presiden RI.

Berikut musik kegemaran dari masing-masing presiden yang dirangkum dari berbagai sumber:


Presiden Soekarno senang dengan musik dan tari Lenso

Soekarno ngudud sambil denger musik gitar
Soekarno ngudud sambil denger musik gitar (twitter.com/Rasyid__Ridha)

Presiden pertama RI, Soekarno dikenal sebagai pencinta seni. Namun demikian tidak semua musik dia gemari, apalagi musik-musik dari barat yang dia sebut musik "ngak-ngik-ngok". Bahkan Bung Karno bisa dibilang sangat anti terhadap semua jenis musik yang dia sebut sebagai produk negara Imperialis/Kapitalis itu, misalnya rock, pop, hingga musik klasik sekalipun.

Pada tahun 1960-an, Bung Karno melarang anak-anak muda Indonesia mendengarkan lagu kelompok musik The Beatles asal Inggris yang sedang melanda dunia. Tindakan Bung Karno tidak hanya sampai di sini. Musik ngak-ngik-ngok buatan dalam negeri pun dilarang beredar. Lagu berjudul "Oh, Kasihku" ciptaan Koes Bersaudara (kemudian berubah nama menjadi Koes Plus) dan lagu "Boneka dari India" yang dinyanyikan Elya Agus (kemudian berubah nama menjadi Elya M Haris, Elya Khadam dst) juga dilarang.

Bahkan Koes Bersaudara dan Elya Agus kemudian dipenjarakan oleh Bung Karno. Alasan Bung Karno melarang musik-musik barat, seperti ditulis Ahmad Tohari dalam sebuah artikel di Koran Republika, karena akan merusak mental para pemuda. Larangan itu selalu dilontarkan dalam setiap pidatonya. Menurut bahasa Bung Karno, musik produk imperialis/kapitalis itu akan melemahkan semangat juang para pemuda dan akan menghancurkan nilai kepribadian bangsa.

Namun demikian, bukan berarti Soekarno tidak cinta pada musik. Seperti dikisahkan Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) dalam buku memoarnya: Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967. Di buku itu dia menceritakan tentang kegemaran Soekarno terhadap tari dan Musik Lenso asal Maluku dan Minahasa tersebut.

Mangil kemudian membentuk sebuah band untuk melayani Bung Karno dalam acara santai, setelah acara resmi. Band ini dipimpin Iskandar Winata, pernah menjabat mayor polisi di bagian urusan kepegawaian Markas Besar Kepolisian. Grup musik Lenso ini yang akhirnya menemani hari-hari Soekarno, baik saat acara resmi di dalam negeri, maupun saat berada luar negeri.

Bahkan ketika Bung Karno berkunjung ke Italia, ketika dia dijamu orang-orang kaya dengan hiburan musik Waltz, Soekarno hanya duduk. Selesai satu lagu, dia meminta band musik Lenso yang dia bawa dari tanah air menggantikan mereka, hingga akhirnya seluruh tamu mengikuti Soekarno ber-Lenso ria.


Presiden Soeharto senang mendengarkan Gending Jawa

Presiden Soeharto tengah beristirahat di tengah-tengah kunjungannya ke daerah
(yarifhidayat278.blogspot.com)

Belum banyak literatur resmi menulis tentang kegemaran musik Presiden Kedua RI, Soeharto selama 32 tahun memimpin negeri ini. Belum ada catatan bahwa dia hadir dalam acara konser musik apapun di negeri ini, baik bergenre rock, pop, atau jenis musik lainnya. Namun demikian, sebagai orang Jawa tulen, Soeharto disebut-sebut senang dengan musik gending-gending Jawa. Apalagi istrinya, mendiang Ibu Tien Soeharto juga masih keturunan keraton Solo, Jawa Tengah.

Hal itu tampak dalam setiap prosesi pesta yang digelar di kediamannya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Letjen (Purn) Soeyono, mantan pengawal Soeharto, pernah menuturkan kenangannya ketika melayani bosnya. Dia bercerita tentang kebiasaan Soeharto dan Ibu Tien kerap ngerumpi berdua, duduk bersama di ruang tamu lantai atas. Keduanya suka mendengarkan gending Jawa. "Pokoknya sangat old style. Jawa tulen! Musik yang didengar Pak Harto itu hanya gending Jawa, tidak pernah jenis musik yang lain."


Presiden B.J. Habibie senang semua musik kecuali rap

B J Habibie bisnis.liputan6.com
bisnis.liputan6.com

Presiden BJ Habibie juga tidak pernah menyebut langsung musik jenis apa yang dia sukai. Namun demikian, dalam buku: Habibie dan Ainun, presiden ketiga itu juga diceritakan sebagai pencinta seni, termasuk musik. Dia misalnya, senang mendengarkan musik, menyanyi dan menari (dansa). Selain itu, dia juga suka dengan drama dan film. Namun demikian ada satu jenis musik yang tidak dia sukai, yakni genre musik hip hop dan rap.


Presiden Gus Dur hobi mendengarkan musik klasik, Beethoven dan Mozart

Abdurrahman Wahid at the World Economic Forum Annual Meeting in Davos, 2000
Abdurrahman Wahid at the World Economic Forum Annual Meeting in Davos, 2000
(article.wn.com)

Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam beberapa kesempatan mengungkapkan kegemarannya mendengarkan musik-musik klasik, misalnya Beethoven dan Mozart. Koleksi musik-musik klasik Gus Dur ini juga berbilang banyak, di antaranya disimpan di kantor PBNU, Mataraman, Jakarta Pusat.

Bahkan, di saat kritis sebelum meninggal pun Gus Dur meminta agar didengarkan musik Beethoven. Hal itu dikatakan Wakil Bendahara Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bambang Susanto yang menemani Gus Dur ketika dalam kondisi kritis.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Gus Dur akhirnya dibawa tim dokter ke ruang penanganan khusus setelah sebelumnya mengalami kesakitan. Di ruang khusus, dirinya hanya bisa memantau Gus Dur yang sedang ditangani tim dokter dari televisi yang disediakan pihak RSCM.

Namun sekitar pukul 15.00 WIB, salah seorang dokter meminta keluarga untuk membawakan CD musik Beethoven. Gus Dur saat itu sudah bisa bicara dan minta musik kesayangannya diputar.

"Terus gak berapa lama ada yang ngambilin dan langsung didengerin ke Gus Dur. Dari layar TV itu keliatan, Gus Dur lagi dengerin musik dengan headset. Jadi di kupingnya dikasih headset buat dengerin musik," ujar Bambang sambil menunjukkan foto yang dia ambil saat Gus Dur terbaring dan mendengarkan musik klasik itu.

Kegemaran Gus Dur mendengarkan Beethoven bahkan sampai dijadikan humor. Humor ini ditulis ulang oleh Bambang Haryanto, penulis buku: Komedikus Erektus. Dia menukil dari kisah wawancara wartawan dengan Gus Dur setelah dilengserkan dari kursi presiden RI keempat.

Saat ditanya wartawan apakah Gus Dur menyesal ketika dilengserkan dari kursi presiden RI, dengan enteng Gus Dur menjawab. "Sama sekali tidak. Saya lebih menyesal ketika saya kehilangan 27 rekaman Simfoni Kesembilan dari Beethoven."


Presiden Megawati yang hobi menari

Foto Megawati dan almarhum Taufik Kiemas berkostum Belanda (Nurul detikTravel)
Foto Megawati dan almarhum Taufik Kiemas berkostum Belanda (Nurul/detikTravel)

Berbeda dengan Gus Dur yang terang-terangan mengaku gemar mendengarkan musik klasik, Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarno Putri mengaku justru lebih senang menari. Sampai sekarang belum banyak catatan tentang musik yang digemari oleh presiden perempuan pertama RI ini. Dalam beberapa kesempatan dia justru mengaku senang menari.

Waktu kecil Megawati memang besar di Istana Negara bersama ibu, ayah dan saudara-saudaranya. Sejak kecil itu dia sudah belajar menari. Hingga akhirnya dia kerap diminta tampil menari mengisi acara-acara resmi kenegaraan, misalnya ketika ada acara kunjungan tamu dari kepala negara asing, Soekarno kerap memintanya menari.

Namun dalam beberapa kesempatan, ada yang bilang Mega kerap bilang gemar mendengarkan lagu-lagu dari Frank Sinatra, salah satu legenda musik Jazz Amerika Serikat.


Presiden SBY pencinta musik dan pencipta lagu

Presiden SBY tengah memainkan gitar (www.lensaindonesia.com)

Dari seluruh presiden yang dimiliki Indonesia, barangkali cuma Presiden Susilo Bambang Yudhoyona (SBY) yang benar-benar mencintai musik. Dia bahkan dia bisa dibilang piawai memetik gitar hingga menulis lagu. Bahkan SBY disebut-sebut sebagai presiden pencipta lagu terbanyak dan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI). Dari lagu-lagunya itu SBY juga menerima royalti selama beberapa tahun.

Selama menjabat, SBY telah merilis empat album, yaitu Rinduku Padamu (2007), Evolusi (2009), Ku Yakin Sampai Di Sana (2010) dan Harmoni Alam Cinta dan Kedamaian (2011). Album kelima seakan menjadi album perpisahan SBY selama menjabat menjadi kepala negara.

SBY bahkan telah meluncurkan album kelimanya yang bertajuk 'Kumpulan Lagu-Lagu Terbaik Karya SBY dan Karaoke Lagu-Lagu Karya SBY'. Peluncuran ini berlangsung di Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat yang dihadiri artis-artis ternama nasional.

Sebelumnya, Karya Cipta Indonesia (KCI) menyerahkan royalti hak cipta dan karya kepada SBY sebesar Rp 16,6 juta. Royalti itu dibayarkan bertepatan pada hari ulang tahunnya yang berlangsung pada 9 September lalu. "Kebetulan SBY jadi anggota KCI sudah lama, karena albumnya yang didaftarkan ke KCI sejak rekaman pada 2010," ungkap Bens Leo.


Presiden Jokowi dengan musik rock

Jokowi sedang mencoba bass pemberian bassist Metallica
Jokowi sedang mencoba bass pemberian bassist Metallica

Awalnya tidak ada yang menyangka bila Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) itu ternyata pencinta musik rock. Di balik penampilannya yang kalem, mantan wali kota Solo dan gubernur DKI Jakarta itu ternyata nge-fans dengan band rock Metallica asal Amerika Serikat. Bahkan waktu muda dia mengaku pernah menonton konser Metallica tahun 1993 di Jakarta. Dia mengaku beruntung tak jadi korban kerusuhan saat itu.

Bahkan Politikus PDI Perjuangan ini sampai mengejar ke luar negeri jika ada grup rock favoritnya tampil. "Sehingga saya sampai kadang-kadang saya kejar-kejar di Singapura sampai lihat Lamb of God, Judas Priest. Seneng saja," kata Jokowi.

Ketika menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Jokowi juga sempat hadir menonton konser Metallica di stadion GBK. Dia datang mengenakan kostum khusus warna hitam, ikut berdesak-desakan bersama penonton lainnya.

"Kostum khusus. Yang jelas hitam kaosnya. Saya punya kaos setumpuk. Tadi siang saya telepon ke istri saya. Kaosnya ada di Jakarta atau masih di Solo. Ternyata sudah ada di Jakarta. Mau kaos apa? Lamb of God, Megadeth, Metallica ada," ungkapnya.

Jokowi mengaku setiap kali menonton konser grup band rock selalu membeli kostum. Yang terakhir, dia bela-belain membeli kaos bergambar Guns and Roses saat nonton konser beberapa bulan lalu.

Demi melihat penampilan grup band rock yang digawangi oleh Kirk Hammett, Lars Ulrich, James Hetfield and Robert Trujillo, Jokowi mengaku tidak takut berdesak-desakan dengan penonton lainnya. Sebab, baginya menonton konser musik rock tidak boleh duduk diam.

sumber: www.merdeka.com / foto: google.com )
  • Bagaimana Menurut Anda?