728x90 AdSpace

T e r b a r u
Rabu, 03 Juni 2015

Rahasia Di Balik Pembuatan Adit & Sopo Jarwo

Perjalanan MD animation dalam menghasilkan sebuah serial animasi ini pun tidaklah mudah. Ada beberapa rahasia besar di balik pembuatan animasi Adit & Sopo Jarwo hingga begitu popular. Mau tahu?


Karya animasi buatan Indonesia perlahan mulai mendapatkan tempat di masyarakat. Salah satu karya yang tengah naik daun adalah serial animasi produksi MD animation Adit & Sopo Jarwo. Serial tersebut sudah ditayangkan di MNC TV sejak 27 Januari 2014 hingga sekarang.

Meski dibombardir dengan animasi luar negeri, tayangan animasi yang menonjolkan tentang persahabatan Adit dan kawan-kawan ini sempat merajai televisi nasional. Kini serial animasi pun dikompetisikan dalam Indonesian Kids Choice Awards 2015.

Perjalanan MD animation dalam menghasilkan sebuah serial animasi ini pun tidaklah mudah. Ada beberapa rahasia besar di balik pembuatan animasi Adit & Sopo Jarwo hingga begitu popular. Mau tahu? Merangkum dari berbagai sumber, inilah rahasia besar di balik pembuatan animasi Adit & Sopo Jarwo

Banyaknya animator yang terlibat

MD animation merupakan studio animasi baru di Indonesia, sehingga cukup sulit untuk mengumpulkan sumber daya manusia manusia ketika studio ini dibentuk.

Awalnya, setelah pontang-panting selama tiga setengah tahun, akhirnya MD animantion merekrut sekitar 300 animator dan mulai memproduksi konten lokal sendiri. Hampir 80 persen animator yang direkrut oleh MD animation ini merupakan animator fresh graduate SMK yang berusia belasan tahun.

Untuk membuat serial animasi ASJ ini, jumlah animator yang dibutuhkan 280 animator per episode. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu tim kreatif ASJ, Asep Hendi Afandi saat diwawancarai dalam acara Hitam Putih Trans7 pada 18 Maret.

"Itu dikerjakan sama 250 animator," ungkap Hendi.

Dalam tayangan Hitam Putih Trans7 malam itu Hendi juga mengungkapkan ingin merekrut sebanyak 5.000 animator untuk memproduksi episode baru.

Pengerjaan yang lama per adegan

Dena Riza selaku Manager Director Adit & Sopo Jarwo menjelaskan ASJ sudah dikembangkan sejak 2002. Namun karena terkendala sumber daya manusia (SDM), proyek itu terpaksa ditunda. Akhirnya Dena Riza menambah sumber daya hingga berjumlah 300 animator untuk memproduksi ASJ.

Meski animasi dikerjakan lebih dari 200 orang, bukan berarti waktu pengerjaannya bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Untuk satu menit adegan dalam animasi memerlukan proses pembuatan hingga 90 jam.

"Satu menit adegan dalam film ASJ membutuhkan proses hingga 90 jam," ungkap Hendi saat di wawancarai dalam Hitam Putih.

Dalam pembuatan episode pertama, tim ASJ membutuhkan waktu hampir satu setengah tahun.

Menggunakan software gratis

Biasanya untuk membuat animasi, studio animasi menggunakan software 3Dmax Maya yang harganya mencapai Rp 40 jutaan untuk satu komputer. Mengingat MD animation butuh lebih dari 350 komputer yang harus dipasing program animasi, maka MD animation menggunakan software yang bisa didapatkan secara gratis dan legal.

Perangkat lunak tersebut disebut dengan Blender. Software buatan Belanda itu tak hanya gratis, namun juga mudah digunakan.

"Software-nya enteng, jadi siapa pun yang mau belajar animasi bisa langsung beradaptasi,” ujar kepala Rekrutmen dan Promo serial ASJ, Erix Soekamti yang juga vokalis Endank Soekamtie saat diwawancarai oleh Solopos.com melalui telepon, Jumat (9/1/2015).

Hasil visualisasi dari aplikasi ini pun tak kalah bagusnya dengan peranti yang bagus dan mahal. Hal tersebut dibuktikan dengan satu seri ASJ berjudul Motor Baru Bikin Haru masuk dalam lima nominasi film animasi terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2014 lalu.

Tak hanya itu, salah satu film seri ASJ berjudul Ojek Payung Bikin Bingung juga sukses dinobatkan sebagai film animasi bertema antikorupsi terbaik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Desember 2014 lalu.

Biaya produksi yang mahal

Meski sudah tertolong dengan penggunaan piranti yang gratis, namun ASJ tetap mengeluarkan pembiayaan yang besar. Biayanya pun tak tanggung-tanggung, Dena Riza menjelaskan ongkos pembuatannya mencapai miliaran.

“Biayanya sekitar 10 kali naik haji, ya sampai M [miliar] lah,” ujar Dena.

Itu bukan suatu hal yang mengherankan. Proses pembuatan animasi memang dikenal membutuhkan biaya yang besar. Biaya produksi animasi Meraih Mimpi (2009) yang juga melibatkan animator Indonesia itu menelan biaya hingga 5 juta dolar As atau setara dengan Rp 66 miliar.

Tokoh Jarwo dekat dengan Kondisi Indonesia

Dalam serial tersebut, karakter Jarwo digambarkan sebagai sosok yang licik, cerdik dan dapat melakukan apapun. Ia serba bisa, bisa menari, membetulkan genteng, memasak hingga mencuci pakaian. Namun anehnya, hidupnya tidak ada kemajuan. Dari hari ke hari, kesibukannya hanya berkendaraan dengan motor butut bersama temannya, Sopo.

Karakter tersebut sengaja ditokohkan seperti itu sebagai analogi keadaan bangsa indonesia saat ini. Kita mampu melakukan apapun. Tapi terkadang kita malas dan tidak mau bekerja keras.

“Di belakang Adit, Sopo Jarwo ada sebenarnya ada tanda tanya. Dia [Jarwo] bisa semua tapi dia kok gitu-gitu aja ya? Kok dia enggak bisa maju ya? Itulah yang ingin kami tampilkan sebagai autocritic,” papar Hendi

  • Bagaimana Menurut Anda?