728x90 AdSpace

T e r b a r u
Kamis, 20 Agustus 2015

ZUBIR SAID, ORANG MINANG PENCIPTA LAGU KEBANGSAAN SINGAPURA

Belajar memainkan suling, gitar, dan drum secara otodidak, Zubir sempat bersekolah di Belanda. Pada 1928, ia merantau ke Singapura untuk bermusik meski dilarang sang ayah, Mohamad Said bin Sanang.

ZUBIR SAID, ORANG MINANG PENCIPTA LAGU KEBANGSAAN SINGAPURA

Zubir memulai karier bermusik di Group Bangsawan, sebuah kelompok opera Melayu, lantas pindah ke perusahaan rekaman His Master's Voice tahun 1936. Dua dekade kemudian, pada 1957, untuk pertama kalinya karya musikal Zubir dipentaskan untuk umum di Victoria Theater. Tahun berikutnya, Dewan Kota Singapura menetapkan Majulah Singapura sebagai lagu resmi. Lagu tersebut menjadi lagu resmi pula saat Singapura sebagai negara bagian Malaysia. Bahkan dipertahankan sebagai lagu kebangsaan ketika Singapura memisahkan diri dari Negeri Jiran pada 1965.


Mari kita rakyat Singapura / Sama-sama menuju bahagia / Cita-cita kita yang mulia / Berjaya Singapura / Marilah kita bersatu / Dengan semangat yang baru / Semua kita berseru / Majulah Singapura..

Demikian lirik lagu yang tiap hari dikumandangkan di Negeri Singa itu untuk terus mendorong semangat warganya. Meski lirik lagu tersebut hanya boleh dinyanyikan dalam bahasa Melayu, namun telah diterjemahkan dalam tiga bahasa resmi Singapura lainnya, yakni bahasa Inggris, Mandarin, dan Tamil. Pada 2001, Pemerintah Singapura menggubah lagu tersebut dari nada dasar asli yang menggunakan G mayor, menjadi nada dasar F mayor. Tujuannya agar terdengar lebih megah dan menginspirasi.

Sepanjang hidupnya, Zubir diperkirakan menulis sekitar 1.500 lagu, walau hanya 10% di antaranya yang direkam. Ia dipandang sebagai komponis dengan jiwa Melayu sejati karena lagu-lagunya dipenuhi pesan-pesan historis dan filsafat Melayu.

Wafat pada usia 80 tahun tanggal 16 November 1987, Zubir meninggalkan seorang istri dan lima anak. Namanya diabadikan dalam film dokumenter Zubir Said: His Songs, sebuah patung perunggu di kawasan bersejarah Istana Kampung Gelam, dan sebagai nama jalan di Singapura.

Perjuangan Zubir untuk tetap bermusik membuahkan hasil. Tak hanya mengharumkan Tanah Air, ketekunan membuat namanya dikenang di Singapura, hingga mancanegara.

Sumber foto: http://malaysiana1957.blogspot.com/2010_07_01_archive.html
  • Bagaimana Menurut Anda?